Monday, June 24, 2013

Dari perempuan, untuk Indonesia, dan Menginspirasi Dunia



Dari perempuan, untuk Indonesia, dan Menginspirasi Dunia
Oleh
Gia Juniar Nur Wahidah
"Ajarilah mereka memintal dan menjahit
Biarkan mereka membaca dan menulis aksara
Doanya seorang dara dengan Al-Fatihah dan Al-Ikhlas
Sama dengan membaca Yunus dan Bara'ah"
Itulah sepenggal pesan Abul A'la Al Ma'arry terhadap perempuan.  Jika kita perhatikan maka pesan tersebut terbagi menjadi tiga pesan besar. Pertama, ‘ajarilah mereka memintal dan menjahit’, kemudian ‘biarkan mereka membaca dan menulis aksara’, dan yang terakhir ‘doanya seorang dara dengan Al-Fatihah dan Al-Ikhlas sama dengan membaca Yunus dan Bara'ah’.
Lalu apa makna dari ketiga pesan tersebut?
Jika saya coba tafsirkan, ketiga pesan tersebut maka ketiganya merupakan aspek yang dibutuhkan perempuan sejak dahulu, hari ini dan kemudian hari. Ketiga aspek ini akan membawa perempuan dalam kemuliaannya seperti yang Islam ajarkan. Maka benarlah apa yang Rasulullah sampaikan, " Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah "(HR. Muslim dan An Anasa'i)
Pesan pertama, ‘ajarilah mereka memintal dan menjahit’ bermakna perempuan harus memiliki kapabilitas. Memintal dan menjahit merupakan dua keterampilan spesialis perempuan sehingga dengannya ia dapat memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Jika kita tafsirkan kepada kondisi hari ini, titik tekannya bukan pada perempuan harus bisa memintal dan menjahit, namun perempuan harus mempunyai kapabilitas sehingga dapat bermanfaat bagi banyak orang. Terlebih di era globalisasi yang penuh kompetisi ini, maka perempuan harus mampu bersaing, sekali lagi, tentu saja dengan kapabilitasnya.
Jika kita lihat parlemen di Indonesia misalnya, tidak sampai 20% keterwakilan perempuan Indonesia di sana. Padahal undang-udang telah ‘menyisihkan’ kursi untuk perempuan sebanyak 30%. Ini menggambarkan, masih sedikitnya ketertarikan perempuan di dunia politik. Padahal politik merupakan sektor strategis karena berkaitan dengan pengambilan kebijakan di negara ini.
Selain politik, isu gender dan ICT (Information and Communication Technology) merupakan satu dari isu penting dan besar yang dihadapi perempuan secara global setelah kemiskinan dan kekerasan terhadap perempuan, bahkan dalam Deklarasi Beijing 1995 dan program aksinya pun telah mencantumkan isu gender dan ICT tersebut, yang melahirkan suatu keinginan batu untuk memberdayakan perempuan melalui peningkatan keterampilan, pengetahuan serta akses terhadap penggunaan teknologi informasi. Konferensi di Budapest bulan Juni Tahun 1999 menyebutkan perempuan sebagai insan dari planet bumi juga harus memainkan perannya dalam petualangan ilmu pengetahuan (Indrayani : 2005).
Bidang teknologi, khususnya Teknologi Komunikasi dan Informasi (Information and Communication Technology –ICT), masih sangat dekat dengan identitas laki-laki sedangkan perempuan seringkali hanya sebagai obyek, maka dipandang perlu untuk membuat perempuan melek Teknologi dan Informasi demi meningkatkan potensi bangsa. Kuantitas jumlah perempuan hampir separuh dari penduduk Indonesia yang merupakan potensi jika diberdayakan dengan baik. Misalnya mendekatkan ICT dengan perempuan agar potensi yang besar itu tidak hanya sebagai obyek. Arus informasi yang sangat pesat dari berbagai sumber, membutuhkan peningkatan kemampuan dan pemberdayaan perempuan untuk menyeleksi informasi tersebut agar tidak ketinggalan dan tidak menjadi obyek (Indrayani : 2005).
Pesan ke dua, ‘biarkan mereka membaca dan menulis aksara’. Ini memiliki artian, aspek intelektualitas menjadi aspek penting yang harus dimiliki oleh perempuan. Perempuan tak boleh kalah intelek dengan laki-laki, karena Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu dan kewajiban itu tak turun hanya untuk kaum laki-laki saja, tapi juga perempuan.
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujaadalah : 11)
Kita ingat ketika Rasul menjadikan masjid tak sebatas sebagai tempat untuk beribadah, namun juga pusat peradaban. Jika masjid hanya difungsikan sebagai tempat ibadah maka tak perlu ada shaff perempuan di masjid, karena shalat yang paling utama bagi perempuan adalah di rumah.  Saat itu masjid difungsikan sebagai majelis ilmu di mana baik kaum laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk datang di majelis Rasul. Bahkan kaum perempuan tak malu untuk menanyakan hal-hal spesifik kewanitaan kepada Rasul.
Dapat dilihat bahwa jika perempuan telah serius mengasah intelektualitasnya maka perannya di dunia profesional pun tak boleh dianggap remeh. Satu sosok perempuan yang layak diteladani adalah Rahmah El Yunusiyyah, seorang perempuan yang memiliki peran besar bagi pendidikan Indonesia. Betapa tidak, ialah sang pendiri sekolah pendidikan agama khusus perempuan pertama di Indonesia, Al Madrasatul Diniyyah/ Meisjes Diniyyah School pada tahun 1923 di Sumatra barat. Bahkan ia mendirikan sekolah dinniyah putri tersebut di usia 23 tahun. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar kehormatan ‘Syaikhah’ dari Universitas Al Azhar, Mesir. Suatu gelar kehormatan yang belum pernah diberikan pada perempuan manapun sebelumnya. Tokoh perempuan lain yang juga memberikan kontribusi besar bagi negaranya dan menginspirasi dunia adalah Zainab Al Ghazali seorang aktivis perempuan Mesir yang melalui tulisan-tulisannya secara konsisten menegur tirani Gamal Abdul Naseer, Hellen Keller seorang tunanetra dan tunarungu yang menjadi orang pertama dalam kondisi keterbatasan seperti itu berhasil masuk ke Universitas Radcliffe sebuah universitas inklusi dan berhasil lulus sebagai sarjana tunarungu pertama di dunia, Benazir Butto seorang perempuan yang pernah menduduki kuris perdana menteri Pakistan, juga Dr. Tahani Amer yaitu seorang perempuan berjilbab pertama di NASA.
Pesan ke tiga, ‘doanya seorang dara dengan Al-Fatihah dan Al-Ikhlas sama dengan membaca Yunus dan Bara'ah’. Dara seperti apa yang do’anya dengan surat pendek dapat menyaingi bacaanya akan surat Yunus dan Bara’ah (At-Taubah)? Tentu saja tak sembarang perempuan. Hanya ia yang memiliki kebersihan hati, juga ketebalan iman saja yang mampu memanjaatkan do’a ijabah. Maka dalam hal ini aspek terakhir yang penting diperhatikan oleh perempuan adalah aspek moral.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah:71)
Dari ayat di atas jelas bahwa yang berkewajiban untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemunkaran tak hanya laki-laki tapi juga perempuan. Ini mengandung arti laki-laki dan perempuan sama-sama harus menjunjung tinggi moral dan mengaplikaskannya dalam kehidupan. Perempuan adalah tiang utama pembentukan moral karena perempuan yang paling besar porsi tanggung jawabnya dalam mendidik anak, sementara itu pendidikan anak merupakan tiang-tiang penopang kualitas suatu bangsa.
Wanita adalah tiang negara. Apabila wanitanya baik, hebatlah suatu negara. Dan, jika rusak wanitanya, hancur pula negara tersebut.
Dengan berbekal kapabilitas, intelektualitas, dan moral, maka perempuan dapat turut berkontribusi di masyarakat dan membentuk good society melalui kemanfaatan dan keteladanannya. Perempuan dapat berkontribusi di dunia profesional dengan kemampuan dan daya saing yang dimilikinya. Lebih jauh perempuan dapat memberikan kontribusi besar bagi bangsa dalam berbagai sektor, baik di sektor keprofesian, politik, dan kepemimpinan.
Maka masih adakah yang mempertanyakan peran perempuan untuk Indonesia?
Tak hanya untuk Indonesia, bahkan perempuan dapat menginspirasi dunia.
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah : 105)


No comments:

Post a Comment

Post a Comment